Jumat, 03 Februari 2017

Memilih Suami Yang Shalih

Seorang laki-laki hendaknya mencari calon istri yang shalihah. Demikian pula seorang wanita, dianjurkan baginya untuk memilih seorang ayah yang shalih untuk anak-anaknya, serta memenuhi karakter yang sudah disebutkan sebelumnya, baik berupa agama, akhlak yang baik, harta yang dengannya dia dan anak-anaknya tidak terlantar, atau ilmu agama yang dengannya dia akan mengajarkan anak-anaknya.
Keshalihan seorang ayah akan berdampak pada keshalihan anak-anaknya secara umum. Tidak hanya istri dan anak-anaknya, bahkan cucunya pun dapat merasakannya dampak keshalihan seorang ayah. Tidakkah kita pernah membaca firman Allah Ta’ala,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu. Di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar ketika mereka sampai kepada kedewasaannya kemudian mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al–Kahfi [18]: 82)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Sesungguhnya perumpaan teman yang shalih dan yang buruk itu (bagaikan) penjual minyak kasturi dan pandai besi. Seorang penjual minyak kasturi, boleh jadi Anda akan diberi minyak wangi tersebut, Anda membelinya atau minimal Anda akan mendapatkan aroma wanginya. Sedangkan seorang pandai besi, boleh jadi baju Anda akan terbakar api atau minimal Anda akan mencium aroma asap yang kurang sedap. (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).
Istri merupakan orang yang paling lama duduk dengan kita. Apakah kita suka bila istri kita layaknya seorang pandai besi sehingga baju kita senantiasa terbakar sebagaimana dalam hadits di atas? Apakah kita suka bila kita sering mencium aroma asap yang kurang sedap dari istri kita sebagaimana hadits di atas?
Demikian pula istri. Apakah Anda wahai wanita, suka mendapati suami sebagai orang yang sering membakar pakaian, badan dan bahkan hati Anda sebagaimana hadits di atas? Ingatlah, suami merupakan teman duduk yang paling lama bagi Anda. Bahkan demi Allah, bahaya suami yang buruk itu lebih berbahaya lagi bagi kehidupan akhirat Anda. Keburukannya dapat berdampak luas bagi agama dan kehidupan dunia Anda. Oleh sebab itu, hendaklah setiap wanita bersemangat untuk memilih suami yang shalih. Demikian pula, hendaklah setiap pria bersemangat untuk mencari istri yang shalihah. Biarkan orang-orang yang buruk untuk mereka yang buruk pula. Mereka lebih layak mendapatkannya dan jangan coba-coba menjadi pahlawan kesiangan dengan mengira bahwa mudah bagi kita untuk mengubah agama dan akhlak calon pasangan yang buruk.
Ingatlah, orang yang beriman lebih layak untuk mendapatkan orang yang beriman pula. Allah Ta’ala berfirman,
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik; dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka itu berlepas diri dari apa yang dituduhkan kepada mereka dan bagi mereka ampunan serta rizki yang mulia (surga)” (QS. An Nur[24]: 26).
Ayo … semangat mencari dan memilih pasangan yang shalih dan shalihah ….

Senin, 16 Januari 2017

Pahala Mendidik Anak Perempuan Muslimah

Dalam mendidik anak perempuan ada pahala yang besar yang akan didapat, bersabar terhadap sikap mereka pun sama juga akan mendapat pahala yang besar. Betapa penting dan besar peran orang tua dalam mendidik mereka. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عال جارتين (بنتين) حتى تبلغا، جاء يوم القيامة أنا وهو وضم أصابعه
“ Barangsiapa yang mengasuh dua anak wanita hingga keduanya baligh, maka ia akan datang pada hari Kiamat, aku dan dia seperti ini (beliau menyatukan dua jarinya)”. [Diriwayatkan oleh Muslim].
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata (artinya). ‘Seorang wanita datang menemuiku dengan membawa dua putrinya sambil meminta, ia tidak dapati padaku selain sebuah kurma saja, lalu aku memberikan kurma tersebut kepadanya, ia pun membagikannya kepada dua putrinya sedang ia sendiri tidak makan sedikitpun, kemudian ibu itu bangkit lalu keluar, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui kami, dan akupun memberitahukan hal tersebut kepada beliau, maka beliau bersabda,
من ابْتُلِي من هذهِ البناتِ بشيٍء كُنَّ لهُ سِترًا من النار
“ Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka. ” ‘ . [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim].

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): “Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, ia mengasuh mereka (dalam rumahnya), mencukupi mereka, dan menyayangi mereka maka tentu telah wajib baginya surga”. Maka ada salah seorang dari kaum berkata, “Kalau dua anak perempuan Ya Rasulullah?”. Nabi berkata, “Dua anak perempuan juga” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Al Albani)

Dalam riwayat lain ada tambahan, “Sampai-sampai kami menyangka kalau ada orang yang berkata, “Kalau satu anak perempuan?”, maka tentu Nabi akan menjawab (artinya), “Satu anak perempuan juga”. [Dihasankan oleh Al-Albani].
Dari Uqbah bin ‘Amir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) “ Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar terhadap mereka, ia beri makan mereka, ia beri minum mereka dan ia beri pakaian kepada mereka dari kecukupannya,, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat”. [HR Ibnu Maajah no 3669 dan dinilai shahih oleh Al-Albani] .
Tetap semangat duhai jiwa yang merindukan surga, jagalah anak-anak perempuan itu dengan baik!

OBAT JATUH CINTA = MENIKAH

Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis
Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan
Pernikahan yang benar dalam islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat
Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”
Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya
Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya
Allahumma inna nas’aluka ’ilman nafi’a wa rizqon thoyyiban wa ’amalan mutaqobbbalan


Selasa, 06 Desember 2016

Berhati-hatilah Dengan Ucapan “Andaikata”

Bismillaah was shalatu was salamu ‘alaa Rasulillaah, amma ba’du
Ikhwany wa Akhwaty fillaah waffaqaniyallaahu wa iyyakum jami’an
Ucapan “andaikata” atau “seandainya” sudah sangat sering kita dengar. Namun banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui bahwa ucapan tersebut berdampak pada kemurkaan Allah yang dapat memasukkannya ke dalam api neraka.
Ucapan tersebut sering dianggap sepele padahal berakibat pada rusaknya tauhid seseorang. Sehingga seorang yang bertauhid akan menghindari ucapan tersebut dan lebih berhati-hati dalam perkataannya.
Oleh karena itu, penulis mengajak pembaca untuk mengetahui lebih jelas mengenai ucapan “andaikata”. Ucapan ini tidak semuanya mendatangkan kemurkaan Allah. Akan tetapi tergantung pada penggunaan ucapan tersebut sehingga ucapan tersebut memiliki hukum yang berbeda pada masing-masing penggunaan.
Berikut ini penjelasannya.
Ucapan “andaikata” yang digunakan dengan maksud untuk memprotes ketentuan syari’at, hukumnya adalah haram.
Contohnya: Andaikata minuman keras itu halal, tentu saya akan memperoleh keuntungan yang lebih besar.”
Sebagaimana firman Allah:
الَّذِينَ قَالُوا لإخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“(Mereka itu) adalah orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari diri kalian, jika kalian orang-orang yang benar.”(QS. Ali Imran:168)
Ucapan “Andaikata” apabila digunakan untuk memprotes taqdir, maka hukumnya juga haram.
Contohnya: “Andaikata saya tidak sakit, maka saya tidak akan kehilangan kesempatan yang bagus itu”.
Disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:
ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Kemudian setelah kalian berduka-cita Allah menurunkan kepada kalian keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kalian, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan Jahiliyyah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’ Katakanlah: ‘Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Ali ‘Imraan: 154).
Ucapan “andaikata” yang digunakan sebagai pernyataan penyesalan.
Contohnya: “Andaikata saya kemarin tidak pergi, tentu tidak akan mengalami kecelakaan.” Maka ini hukumnya haram. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallaam telah melarang hal itu,
احْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ،
وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.” (H.R. Muslim)
Ucapan “andaikata” apabila untuk berangan-angan tentang suatu kebaikan, maka hukumnya baik.
Namun apabila untuk berangan-angan tentang kejelekan, maka hukumya juga jelek sehingga mendapat dosa. Contohnya:
Seandainya aku memiliki harta sebanyak fulanah, akan aku gunakan sebagaimana fulanah menggunakannya. Jika fulanah menggunakan hartanya untuk kebaikan, maka dia mendapat pahala kebaikan. Jika hartanya digunakan dalam hal keburukan, maka dia akan mendapat dosa.
Ucapan “andaikata” yang digunakan sebagai berita, hukumnya boleh.
Contohnya: “Seandainya kemarin kamu hadir, kamu dapat mendengarkan ceramah yang bermanfaat dari Ustadz Fulan.”
Ucapan “andaikata” jika digunakan untuk menjadikan taqdir sebagai dalih berbuat maksiat, maka hukunmya haram.
Ucapan “Andaikata” yang hukumnya diharamkan dapat mengakibatkan berkurangnya kesempurnaan tauhid seseorang bahkan dapat membatalkan tauhid. Ucapan yang haram ini merupakan kebiasaan orang-orang munafik dan orang-orang musyrik.
Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita sebagai kaum muslimin mengikuti mereka, melainkan menjauhi amalan-amalan yang dapat menjerumuskan ke dalam amalan-amalan mereka.
Wallaahu a’lam.
Alhamdulillaahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat,
wa shallallaahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallaam.
Walhamdulillaahirabbil'aalamiin
Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik .


Senin, 17 Oktober 2016

ALLAH MENJAWAB AL FATIHAH KITA

Banyak sekali orang yang cara membacanya tergesa-gesa tanpa spasi. Dan seakan-akan ingin cepat menyelesaikan shalatnya. Padahal di saat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al Fatihah tersebut, Allah menjawab setiap ucapan kita.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Swt berfirman:
"Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk hamba-Ku."

* Artinya, tiga ayat di atar Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in adalah hak Allah, dan tiga ayat ke bawahnya adalah urusan hamba-Nya.

* Ketika kita mengucapkan "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin", Allah menjawab: "Hamba-Ku telah memuji-Ku."
* Ketika kita mengucapkan "Maliki yaumiddin", Allah menjawab: "Hamba-Ku memuja-Ku."
* ketika kita mengucapkan "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in", Allah menjawab : "Inilah perjanjian atara Aku dan hamba-Ku".
* Ketika kita mengucapkan "Ihdinash shirathal mustaqim, shirathal ladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdu bi 'alaihim maladhdhaallin", Allah menjawab: "Ini adalah perjanjian antara aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta." (HR. Muslim dan At Thirmidzi).

* Berhentilah sejenak setelah membaca satu ayat. Rasakanlah jawaban  yang indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita.

* Selanjutnya ucapkan "Aamiin" dengan ucapan yang lembut, karena malaikat pun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.
* Barang siapa yang ucapan "Aamiin-nya" bersamaan dengan malaikat maka Allah akan memberikan ampunan kepadanya.

(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Selasa, 27 September 2016

JIKA ISLAM DI TUDUH TERORIS ? BANTAHAN MUALAF INI BIKIN BUNGKAM PENUDUH

Ulama muda Jerman, Pierre Vogel, punya cara tersendiri bagaimana membantah tuduhan terhadap Muslim sebagai Terroris.

Ulama mu’alaf yang bersyahadat tahun 2001 itu, dengan cara tercepat dan terbaik yang amat mengena bantahan dan menangkal dakwaan Muslim dengan terorisme.

Dalam sebuah ceramahnya, ia menyampaikan bagaimana cara ia menyangkal tuduhan itu :

– Siapakah yang menyulut perang dunia pertama?

– Siapakah yang menyulut perang dunia kedua?

– Siapakan yang selalu menjajah sebuah negara damai, aman, tenteram hanya untuk kepentingan ekspansi.

– Siapa yang selalu menyiarkan sebuah ajaran agama dengan cara menjajahnya terlebih dahulu?

– Siapakah yang menjatuhkan bom atom atas Hiroshima dengan keji, tidak berperikemanusiaan, dan mengorbankan jutaan rakyat sipil?

– Siapakah yang membantai 20 juta suku Aborigin di Australia?

– Siapakah yang membantai lebih dari 100 juta suku indian merah di Benua Utara Amerika?

– Siapakah yang membantai lebih dari lebih dari 50 juta Indian merah di benua Selatan Amerika?

– Siapakah yang menjadikan lebih dari 150 juta manusia dari Afrika sebagai budak (apartheid), Diantaranya 77 % dari mereka mati di perjalanan dan dikubur di lautan Atlantik?

– Siapa yang selalu tertarik untuk menguasai serta “merampas” minyak suatu negara baik dengan cara mengadu domba     mendanai oposisinya, menyebar fitnah ,bom, membuat negara tersebut tak kunjung ada kedamaian?

– Siapa renternir dunia (IMF) yang justru membuat negara pasiennya jadi tambah sengsara dengan system busuk dan kejinya?

– Siapa pelaku adu domba, pembuat skenario besar yang membuat suatu negara, agama, kelompok, ras dll menjadi berperang satu sama lain?

– Siapa pelaku dan pendukung penjajahan, perampasan lahan masyarakat, pembantaian warga Palestina dari tahun 1948 hingga sekarang?

– Siapa pelaku dan pendukung krisis dibeberapa negara dengan cara membuat nilai dollar (dengan cara licik) menjadi tinggi hingga negara tersebut tidak sanggup membayar utang dollar dan harus menjual berbagai asetnya?

– Siapa pelaku yang selalu menghina dan melecehkan sebuah ajaran agama baik dengan menghina tokoh agamanya atau membakar kitabnya?

– Mereka bukan negara Islam maupun orang Islam? Bukalah mata Anda, siapa sesungguhnya yang jahat!

Sebaik-baik ucapan adalah yang singkat dan mengena.

1. Perang Dunia Pertama 17 juta tewas, disebabkan oleh non-Muslim (Kristen)
2. Perang Dunia Kedua 50-55 juta tewas, disebabkan oleh non-Muslim (Kristen)
3. Nagasaki bom atom 200 ribu tewas, disebabkan oleh non-Muslim (Kristen)
4. Perang di Vietnam lebih dari 5 juta orang tewas, disebabkan oleh non-Muslim (Kristen)
5. Perang di Bosnia / Kosovo lebih dari 500 ribu tewas, disebabkan oleh non-Muslim (Kristen)
6. Perang di Irak (sejauh ini) 1,2 juta tewas, dan disebabkan non-Muslim (Kristen)
7. Afghanistan, Burma juga disebabkan oleh non-Muslim (Kristen).

Anda masih berpikir ISLAM adalah Masalah, apakah Islam Teroris ?!

Silahkan Jawab ? Seharusnya kalian berfikir, kenapa islam difitnah, berarti ada sesuatu yang tersimpan di dalamnya, kalian bisa menciptakan produk terbaik untuk dunia ini apakah kalian tidak bisa memaksimalkan akal kalian untuk mencari kebenaran tersebut !

Jangan katakan nanti anda berfikir bila kalian bisa membuat sesuatu saat ini, namun saat ini juga silahkan anda fikirkan !!!



Silahkan LIKE&SHARE jika dirasa bermanfaat.....

Copas Via WA

Minggu, 28 Agustus 2016

TANDA CIRI ORANG YANG SEDANG JATUH CINTA

Menurut hadits Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai'an fa huwa `abduhu).

Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,

(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3) lebih suka mengikutikemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.


Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.

Semoga Kita Lebih Mencintai ALLAH SWT dari pada segalanya.

BACAAN DZIKIR PAGI DAN PETANG

  اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ       *A'uudzu billaahi minas...