Senin, 27 Oktober 2014

Al-Qur’an, Kaitannya Dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pandangan Al-Qur’an tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-Mu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq, 96:1-5).

Iqra’ terambil dari kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.

Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut Bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, obyek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Selanjutnya, dari wahyu pertama Al-Qur’an diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui manusia lain sebelumnya, dan mengajar manusia (tanpa pena) yang belum diketahuinya. Cara pertama mengajar dengan alat atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua dengan mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah SWT.

Setiap pengetahuan memiliki subyek dan obyek. Secara umum subyek dituntut peranannya untuk memahami obyek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa obyek terkadang memperkenalkan diri kepada subyek tanpa usaha sang subyek. Misalnya komet Halley yang memasuki cakrawala hanya sejenak setiaap 76 tahun. Pada kasus ini, walaupun para astronom menyiapkan diri dengan peralatan mutakhirnya untuk mengamati dan mengenalnya, sesungguhnya yang lebih berperan adalah komet itu dalam memperkenalkan dirinya.

Wahyu, ilham, intuisi, firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya, atau apa yang diduga sebagai “kebetulan” yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, semuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat dianalogikan dengan kasus komet di atas. Itulah pengajarah tanpa qalam yang ditegaskan oleh wahyu pertama Al-Qur’an tersebut.


Ilmu

Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan. ‘Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Sekalipun demikian, kata ini berbeda dengan ‘arofa (mengetahui), ‘arif (yang mengetahui), dan ma’rifah(pengetahuan).

Menurut pandangan Al-Qur’an seperti diisyaratkan oleh wahyu pertama, ilmu terdiri dari dua macam. Pertama ‘ilm laduni, seperti diterangkan oleh Al-Qur’an surat al-Kahfi, 18:65.

“Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugrahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepada ilmu dari sisi Kami”.

Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia dinamai ‘ilm kasbi. Ayat-ayat ‘ilm kasbi jauh lebih banyak dari pada yang berbicara tentang ilmu laduni.

Pembagian ini disebabkan karena dalam pandangan Al-Qur’an terdapat hal-hal yang “ada” tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak, sebagaimana ditegaskan berkali-kali oleh Al-Qur’an, antara lain firman-Nya:

“Aku bersumpah dengan yang kamu lihat dan yang kamu tidak lihat”. 
(Q.S. Al-Haqqah, 69:38-39).

Dengan demikian, obyek ilmu meliputi materi dan non materi. Fenomena dan non-fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui manusia pun tidak.

“Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui”. 
(Q.S. Al-Nahl, 16:8).

Dari sini jelas pula bahwa pengetahuan manusia amatlah terbatas, karena itu wajar sekali Allah menegaskan.

“Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit”. 
(Q.S. Al-Isra’, 17:85). 


Teknologi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai “kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu, eksakta dan berdasarkan proses teknis”. Teknologi adalah ilmu atau cara tentang menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia.

Menelusuri pandangan Al-Qur’an tentang teknologi, mengundang kita untuk menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar 750 ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam materi dan fenomenanya, dan memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Secara tegas Al-Qur’an menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk menusia.

“Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai anugrah) dari-Nya”.  
 (Q.S. Al-Jatsiyah, 45:13).

Jadi, dapatkan dikatakan bahwa teknologi merupakan sesuatu yang dianjurkan oleh Al-Qur’an. Sebelum menjawab pertanyaan, ada dua catatan yang perlu diperhatikan.

Pertama, ketika Al-Qur’an berbicara tentang alam raya dan fenomenanya, terlihat secara jelas bahwa pembicaraannya selalu dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Misalnya uraian Al-Qur’an tentang kejadian alam.

“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu yang padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?”.  
 (Q.S. Al-Anbiya, 27:30).

Ayat ini dipahami oleh banyak ulama kontemporer sebagai isyarat tentang teori Big Bang(Ledakan Besar) yang mengawali terciptanya langit dan bumi. Para pakar boleh saja berbeda pendapat tentang makna ayat tersebut, atau mengenai proses terjadinya pemisahan langit dan bumi. Yang pasti, ketika Al-Qur’an berbicara tentang kekuasaan dan kebesaran Allah, serta keharusan beriman kepada-Nya.

Ini berarti sains dan hasil-hasilnya harus selalu mengingatkan manusia terhadap kehadiran dan kemahakuasaan Allah SWT, selain juga harus memberi manfaat bagi kemanusiaan, sesuai dengan prinsip bismi rabbik.

Kedua, Al-Qur’an sejak dini memperkenalkan istilah sakhara yang maknanya bermuara pada kemampuan meraih dengan mudah dan sebanyak yang dibutuhkan segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan dari alam raya melalui keahlian di bidang teknik.

Ketika Al-Qur’an memilih kata sahkara yang arti harfiahnya menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam raya dengan segala manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya berada di bawah manusia.

Dan kedua catatan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi dan hasil-hasilnya disamping harus mengingatkan manusia kepada Allah, juga harus mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah yang kepadanya tunduk segala yang berada di alam raya ini. 

=============@@@=============

Referensi :

Dr. M. Quraish Shihab; Wawasan Al-Qur’an; (Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat.

Minggu, 26 Oktober 2014

Keutamaan Waktu Pagi


Di suatu masjid seperti biasa selepas shalat shubuh, seorang pemuda duduk di masjid sambil menunggu matahari terbit. Dia bukan hanya sekedar duduk santai ketika itu, tetapi dia membuka beberapa lembaran Al Qur’an yang telah dihafalnya dan dia mengulang-ulang untuk menguatkan dalam hatinya. Setelah itu, dia tidak lupa berdzikir dengan bacaan dzikir yang telah dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pagi. Namun, ada suatu kondisi yang berkebalikan. Di belakang dia terdapat seorang pemuda juga yang sebaya dengannya. Ketika sehabis shalat shubuh dan membaca dzikir setelah shalat, pemuda yang kedua ini malah mengambil tempat di belakang. Sambil bersandar di dinding dan akhirnya perlahan-lahan kepalanya tertunduk kemudian tertidur pulas hingga matahari terbit.
Inilah sebagian kondisi kaum muslimin saat ini. Sehabis shalat shubuh di masjid, sebagian di antara kita ada yang memanfaatkan waktu pagi karena dia mengetahui keutamaan di dalamnya. Ada pula yang tertidur pulas karena telah dipengaruhi rayuan setan dan tidak mampu mengalahkannya.
Perlu kita ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yang sangat utama dan penuh berkah. Tulisan berikut akan sedikit mengupas mengenai keutamaan waktu pagi dan bagaimana memanfaatkannya. Semoga Allah selalu memberi kita taufik untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah kita peroleh.
SAUDARAKU, KETAHUILAH KEUTAMAAN WAKTU PAGI
[Pertama] Waktu Pagi adalah Waktu yang Penuh Berkah
Waktu yang berkah adalah waktu yang penuh kebaikan. Waktu pagi telah dido’akan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai waktu yang berkah.
Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Apabila Nabi shallallahu mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini, pen) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wada’ah. (HR. Abu Daud no. 2606. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)
Ibnu Baththol mengatakan, “Hadits ini tidak menunjukkan bahwa selain waktu pagi adalah waktu yang tidak diberkahi. Sesuatu yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada waktu tertentu) adalah waktu yang berkah dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik uswah (suri teladan) bagi umatnya. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu yang lainnya karena pada waktu pagi tersebut adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.” (Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163, Maktabah Syamilah)
[Kedua] Waktu Pagi adalah Waktu Semangat Untuk Beramal
Dalam Shohih Bukhari terdapat suatu riwayat dari sahabat Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ
“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari)
Yang dimaksud ‘al ghodwah’ dalam hadits ini adalah perjalanan di awal siang. Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud ‘al ghodwah’ adalah waktu antara shalat fajar hingga terbitnya matahari. (Lihat Fathul Bari 1/62, Maktabah Syamilah)
Inilah tiga waktu yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari sebagai waktu semangat (fit) untuk beramal.
Syaikh Abdurrahmanbin bin Nashir As Sa’di mengatakan bahwa inilah tiga waktu utama untuk melakukan safar (perjalanan) yaitu perjalanan fisik baik jauh ataupun dekat. Juga untuk melakukan perjalanan ukhrowi (untuk melakukan amalan akhirat). (Lihat Bahjah Qulubil Abror, hal. 67, Maktbah ‘Abdul Mushowir Muhammad Abdullah)
BAGAIMANA KEBIASAAN ORANG SHOLIH DI PAGI HARI?
[1] Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid’. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,
أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
“Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”
Jabir menjawab,
نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ.
“Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670)
An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan).
Al Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Maktabah Syamilah)
[2] Kebiasaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
Dari Abu Wa’il, dia berkata, “Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Mas’ud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sembari berkata, “Mari silakan masuk.” Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Mas’ud sedang duduk sambil berdzikir.
Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?”
Lalu kami menjawab, “Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur.”
Ibnu Mas’ud lantas bekata, “Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?”
Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, “Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit.” Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sembari berkata, “Lihatlah apakah matahari telah terbit.” Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا
“Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini.” (HR. Muslim no. 822)
[3] Keadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di Pagi Hari
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang gemar beribadah dan bukanlah orang yang kelihatan bengis sebagaimana anggapan sebagian orang. Kita dapat melihat aktivitas beliau di pagi hari sebagaimana dikisahkan oleh muridnya –Ibnu Qayyim Al Jauziyah.-
Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.” (Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib,hal.63, Maktabah Syamilah)
[1] Saya terinspirasi untuk menyusun tulisan ini setelah membaca tulisan Ustadz Abu Maryam Abdullah Roy, Lc yang berjudul ‘Tholabul ‘ilmi di waktu pagi’ dari Majalah Al Bashiroh.

Penulis: acumohorella

" KENAPA KEBANYAKAN PENGHUNI NERAKA ADALAH WANITA..?? "

Siksa neraka paling ringan ditandai dengan mendidihnya otak meskipun baru ujung kaki menyentuhnya..
Sebuah kisah terceritakan bahwa Rasululullah Shalallahu'alaihi Wasallam pulang dari Isra’ Mi’raj..
Suatu hari, Rasulullah berkumpul dengan para sahabat..
Lalu, Rasululullah berujar :
Saya telah melihat surga dan neraka, Wahai Sahabat, Keindahan surga sama sekali belum belum pernah terlintas dalam pikiran manusia,Dan hebatnya neraka pun tak pernah terbayangkan pedihnya..
Namun, sungguh saya diherankan oleh sebuah pemandangan..
Mendengar cerita Rasulullah, para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, pemandangan apakah yang engkau lihat..??
Ternyata, kebanyakan penghuni neraka itu para wanita : jawab Rasulullah..
Para sahabat pun terdiam lalu berpikir tentang cerita nabinya..
Mengapa justru kebanyakan wanita menjadi penghuni neraka..??
Bukankah surga itu di bawah telapak kakinya..??
Konon wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki..
Tulang rusuk itu berbentuk pipih dan melengkung. Jika dipaksakan, tulang rusuk itu mudah patah..
Oleh karena itu, tulang rusuk perlu dilindungi agar tidak terkena benda-benda tajam..
Mengapa demikian..??
Karena tulang rusuk itu melindungi organ tubuh yang teramat vital: jantung, hati, dan paru-paru..
Apa jadinya jika organ tubuh itu tidak dilindungi..??
Tentu itu dapat berakibat fatal..
Ciri-ciri tulang rusuk itu sering digunakan sebagai analogi untuk menggambarkan sifat wanita..
Konon perasaan wanita itu tajam sekali,Ia mudah tersinggung dan patah hati..
Jika sudah tersinggung dan patah hati, wanita itu sulit disembuhkan..
Bahkan, banyak wanita memilih hidup sendiri karena merasa dirinya pernah disakiti pasangannya..
Sesungguhnya, setiap wanita menyimpan tiga potensi negatif..
Mudah-mudahan Anda - para wanita - tidak memiliki satu pun dari ketiganya..
GEMAR MENGGOSIP ( GHIBAH )..
Gosip atau ngrasani adalah kebiasaan buruk..
Menggosip berarti suka membicarakan aib orang lain..
Orang yang gemar menggosip berarti melebih-lebihkan berita yang belum tentu benar..
Orang yang gemar menggosip berarti bahwa dirinya merasa lebih baik daripada orang yang dibicarakan..
Anggapan demikian sudah termasuk ke ranah sombong atau takabur..
Dalam suatu riwayat, dosa orang yang menggosip sulit diampuni ALLAH Subhanahu Wata'ala..
Mengapa..??
Jika dosa itu dikaitkan dengan ALLAH, manusia cukup melakukan tiga hal : Istighfar, bertaubat, dan berjanji tidak mengulangi dosa lagi..
Namun, gosip tidaklah demikikian,karena gosip dilakukan kepada sesama manusia, pelaku harus meminta maaf kepada orang yang digosipkan dan ia pun diberinya maaf..
Tanpa pemberian maaf, penggosip tetap menanggung dosanya..
Bagaimana jadinya jika orang yang digosipkan itu sudah meninggal dan kita belum meminta maaf dan kesalahan kita belum di maafkan..??
GEMAR MENGUMBAR AURAT..
Wanita itu makhluk yang teramat indah,dalam segala sisi, wanita itu memiliki daya magnet yang teramat kuat..
Kita dapat menelisik lukisan..
Hampir semua kepunyaan wanita dapat menjadi objek indah bagi pelukis untuk menciptakan karya terbaiknya..
Bahkan, aktivitas wanita pun tak luput untuk diamati sehingga diperoleh sebuah keindahan..
Banyak penyair dan sastrawan menggunakan aktivitas wanita sebagai sumber inspirasi untuk berkarya..
Sayangnya, banyak wanita tidak memelihara keindahan itu..
Banyak wanita menjual keindahannya dengan harga yang relatif murah..
Bahkan, keindahan yang dimilikinya itu kadang digratiskan..
Dengan dalih kebebasan berekspresi atau tuntutan profesi, banyak wanita mengikuti irama zaman..
Maka, begitu mudahnya kita menjumpai para wanita yang mengumbar aurat..
Kadang justru wanita sering menyalahkan lelaki yang iseng menggodanya..
Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada ALLAH dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti bunggul unta..
Mereka tidak masuk Syurga dan tidak mendapatkan wanginya Syurga padahal wanginya boleh didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian..
(Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad)
TIDAK PANDAI BERSYUKUR..
Rezeki itu sudah diatur ALLAH Subhanahu Wata'ala,Manusia diperintahkan untuk menjemputnya..
Karena kemampuan manusia untuk menjemput rezeki itu berbeda-beda, hasil yang didapatkannya pun berbeda-beda..
Kadang manusia mendapatkan banyak rezeki, tetapi sering manusia berpulang dengan tangan hampa..
Karena mencari nafkah adalah tugas lelaki, mestinya kondisi itu disadari dengan baik oleh wanitanya..
Diberi banyak ya bersyukur dan diberi sedikit pun bersyukur..
Mestinya para istri itu mudah berucap terima kasih kepada suaminya, berapa pun sang suami memberikan nafkah..
Namun, sungguh berita pernah tersiarkan dan teramat menyedihkan..
Banyak keluarga berantakan karena ekonomi menjadi penyebabnya..
Karena sang suami dianggap tidak becus mencari nafkah, sang istri pun mengajukan cerai..
Bagi suami, satu kata itu adalah najis yang mesti terhindarkan dari mulut..
Namun, berita berkata lain..
Maka, mungkin pepatah ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang mengandung kebenaran..
Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam Bersabda :
Dan aku melihat Neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita..
Para sahabat pun bertanya : Mengapa (demikian) wahai Rasulullah..??
Rasulullah Shalallahu'alaihi menjawab : Karena kekufuran mereka..
Kemudian ditanya lagi : Apakah mereka kufur kepada ALLAH..??
Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam menjawab : Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya..
Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu..
(Hadis Riwayat Al-Bukhari)
Astaghfirullahhal'adzhiim..
Semoga kita semua terhindar dari siksa api neraka,Aamiin..

.:: SEPULUH WANITA TERCANTIK DI DUNIA::.

1. Seorang wanita yang
menghafal Al-Qur’an dan
melaksanakan hukum-hukum yang ada di dalamnya.
2. Seorang wanita yang
menjadikan wanita-wanita Shalehah istri nabi dan sahabat Nabi sebagai suri tauladan dalam kehidupannya.
3. Seorang wanita yang tidak menoleh kepada seruan apa saja,dari sana sini! Yang mengajaknya untuk meninggalkan
kehormatan,kesucian dan rasa malunya.
4. Seorang wanita yang
menunaikan kewajibannya dalam berbagai sisi kehidupan.
5. Seorang wanita yang taat kepada suaminya dalam perkara yang ma’ruf dan menjadi teman dan penolongnya dalam kebaikan.
6. Seorang wanita yang menahan diri dari kenikmatan tidur untuk
berdiri di hadapan Robbnya.
Menegakkan sholat dan
memohon pahala dan ganjaran kepada-Nya.
7. Seorang wanita yang
menunaikan puasa
sunnah,mengharap keridhoan,cinta dan keberkahan dari Robbnya.
8. Seorang wanita yang menjaga lisannya dan tidak merendahkan
kehormatan orang lain.
9. Seorang wanita yang tidak melihat kepada apa yang ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala haramkan.
10. Seorang wanita yang
mengedepankan suami, anak-anak, harta serta jiwanya di jalan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala dan
dalam rangka pembelaan
terhadap agamanya.
InsyaALLAH Wanita yang
dimaksud adalah wanita yang membaca catatan ini

Sabtu, 25 Oktober 2014

7 TANDA AWAL ISTRI DURHAKA TERHADAP SUAMI

Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiallah r.a bermaksud :
"Aku pernah bertanya kepada Baginda: "Siapakah orang yang paling berhak atas isteri ?"
Baginda menjawab : "Orang yang paling berhak kepada isteri ialah suaminya".
Kemudian aku bertanya lagi : "Dan siapakah orang yang paling berhak atas suami?"
Baginda menjawab : "Orang yang paling berhak atas seorang suami ialah ibu kandungnya." (Riwayat Bazar dan al-Hakim)
Dalam sebuah hadist yang lain pula Baginda bersabda bermaksud :
"Sekiranya aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang isteri bersujud kepada suaminya." (Riwayat Tirmizi dab Ibnu Hibban)
Kita jangan keliru, apabila wanita disebut sebagai isteri, bukanlah untuk merendahkan taraf wanita itu. Ia adalah sebagai suatu jaminan hak supaya mereka itu dipelihara, dilindungi dan dibela dengan baik oleh suami.
Antara sebabnya ialah mudahnya si wanita bergelar isteri melakukan kedurhakaan kepada suaminya. Mungkin tak sadar, tetapi begitulah manusia, sering khilaf akibat nafsu dan hasutan. Wahai isteri, sesungguhnya kedudukan isteri adalah bersama suaminya. Betapapun buruk wajah suami itu, adalah tanggungjawab isteri untuk menghormati dan mengingatkan kekhilafan suami. Ingatlah syurga bagi isteri adalah terletak pada suaminya sendiri...
Jika ada para isteri yang tidak menunaikan tanggungjawabnya kepada suami dengan sebaik-baiknya, dan menganggap tanggungjawab terhadap suami itu hanya membebankan dan menyusahkan dirinya, maka isteri yang sedemikian itu dikhawatirkan termasuk di dalam kategori isteri yang mendurhaka atau nusyuz.
Apakah ciri atau tanda isteri yang durhaka itu? Ini perlu diketahui semata-mata untuk dijadikan langkah waspada agar para isteri terhindar daripadanya. Berikut ciri atau tanda isteri durhaka pada suami.
1 - Menghina atau memaki suami
Bersifat amanah yaitu menjaga kehormatan diri sendiri sebagai isteri dan menjaga kehormatan suami terutama di dalam perkara-perkara rahasia pribadi dan rumah tangga. Isteri ialah orang yang paling dekat kepada suami yang tahu segala kekurangan dan kelemahan suaminya. Membuka rahasia suami atau menyebarkannya akan menurunkan kewibawaan suami, sekaligus menganggu keharmonian rumah tangga kerana suami telah hilang kepercayaan terhadap isteri. Jika membuka rahasia suami dianggap menurunkan kewibawaan suami, apalagi menghina atau mengumpat (mencaci) suami.
2 - Menghardik dan menceritakan kelemahan serta kekurangan suami pada orang lain
Sifat ini terlalu berat dan buruk untuk ditanggung oleh seorang suami. Si isteri tidak sepatutnya dalam keadaan apapun menghardik dan menceritakan kelemahan serta kekurangan suami pada orang lain. Adalah sepatutnya kita sebagai isteri senatiasa bersedia untuk menggembirakan hati suami, sama dengan tingkah laku yang menawan, tutur kata yang menjadi penawar serta perhiasan diri lahir dan batin.
Rasulullah saw bersabda :
Tiada faedah yang paling baik diperoleh seorang mukmin (suami yang beriman) setelah bertaqwa kepada Allah azza wa jalla selain isteri yang solehah.
3 - Isteri keluar rumah tanpa izin suami
"Apabila perempuan keluar rumah, sedangkan suaminya membencinya, dia dilaknat oleh semua malaikat di langit, dan semua apa yang dilaluinya selain daripada jin dan manusia sehingga dia kembali." (Diriwayatkan oleh Thabarani di dalam al-Awsat)
4 - Isteri mendoakan keburukan buat suami
Isteri yang solehah adalah isteri yang sentiasa mendoakan kebaikan, kesejahteraan dan rahmat Allah swt bagi suaminya dan bukannya sebaliknnya.
5 - Membenci kegemaran suami
Mengakui dan menerima kenyataan bahawa suami adalah pemimpin di dalam kepimpinan keluarga sebuah rumah tangga. Tiada siapapun yang menyangkal bahawa suami telah diberikan kelebihan satu derajat daripada isteri. Satu kurnia Allaw swt yang meletakkan suami bertanggungjawab menjaga serta mengawal keselamatan dan kesejahteraan perjalanan hidup keluarganya di dunia dan akhirat serta suami wajib memberi nafkah isteri dan anak-anaknya. Namun yang demikian itu tidak bermakna istri dengan sewenang-wenangnya berhak membenci kesukaan atau kegemaran si suami.
Firman Allah :
Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian daripada harta mereka. (An-Nisa : 34)
6 - Menjadi beban bagi suami
Tidak dipungkiri keadaan ekonomi hari ini adakalanya mampu memberi dampak besar kepada sebuah keluarga. Namun begitu, si isteri perlu bersikap bijaksana dan rasional dalam menggunakan harta benda suami. Jangan meminta sesuatu yang di luar kemampuannya karena hal yang demikian akan menyebabkan beban dan ketegangan di dalam kehidupan suami. Di samping itu juga, adalah lebih baik jika si isteri sama-sama membantu menguruskan rumahtangga agar ini dapat mengurangkan tekanan kepada si suami.
Apabila suami menyuruhnya, ia mentaatinya. Jika suami memandangnya ia menggembirakan hati suaminya. Sekiranya suami bersumpah, ia memenuhi sumpah suaminya itu. Apabila ia keluar karena bertugas atau berjuang, ia menjaga kehormatannya dan kehormatan suaminya serta menjaga harta benda suaminya dengan cara cermat dalam membelanjakannya.
(Riwayat Ibnu Majah)
7 - Mengungkit-ungkit janji suami
Ridhlo dan bersyukurklah dengan setiap pemberian suami. Sesungguhnya itulah nikmat dan rezeki yang terbaik bagi isteri.
Sabda Rasulullah saw :
"Aku lihat api neraka, tidak pernah aku melihatnya seperti hari ini, karena ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya. Telah aku saksikan kebanyakan ahli neraka ialah wanita. Rasullullah saw ditanya: "Mengapa demikian ya Rasulullah?" Baginda menjawab: "Wanita mengkufurkan suaminya dan mangkufurkan ihsannya. Jikalau engkau berbuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia masih belum merasa berpuas hati dan merasa cukup."
(Riwayat al-Bukhari)
Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda :
"Kebanyakan ahli neraka adalah terdiri daripada kaum wanita." Maka menangislah mereka dan bertanya salah seorang daripada mereka: "Mengapa terjadi demikian, adakah karena mereka berzina atau membunuh anak atau kafir ?" Baginda menjawab : "Tidak, mereka ini ialah mereka yang menggunakan lidah menyakiti hati suami dan tidak bersyukur akan nikmat yang disediakan oleh suaminya."
(Riwayat Muslim)


islamkarya.blogspot.com

WANITA AMBON AHLI 14 BAHASA MENINGGAL DUNIA

Kemampuannya menguasai 14 bahasa membuatnya dikenal masyarakat luas. Gayatri Wailissa, putri asal Ambon itu menutup usianya tadi malam, Kamis (23/10).
"Gayatri, Kick Andy Young Hero 2014, putri Ambon yang menguasai 14 bahasa, telah wafat hari ini. Mari sampaikan doa untuknya," tulis akun Facebook Kick Andy Show seperti dikutip  Jumat (24/10).
Gayatri meninggal sekitar pukul 19.00 WIB di Rumah Sakit Abdi Waluyo Menteng Jakarta Pusat. Wanita cantik ini dikabarkan meninggal lantaran pendarahan otak setelah dirawat empat hari di rumah sakit tersebut. Menurut diagnosis dokter, pembuluh darah Gayatri sudah pecah dan sudah tak ditolong. Rencananya pagi tadi jenazah Gayatri akan langsung diterbangkan ke Ambon dan segera dimakamkan di sana.
Gayatri yang masih berusia 16 tahun itu memang punya segudang prestasi semasa hidupnya. Tak kurang dari 11 bahasa dikuasai oleh Gayatri. Mulai dari bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Prancis, Korea, Jepang, India, Rusia dan Tagalog dikuasainya dengan baik dan fasih. Terakhir, Gayatri menjadi Duta Kodam V/Brawijaya dan Duta ASEAN untuk Indonesia di bidang anak mewakili Indonesia.

Jumat, 24 Oktober 2014

Islam Adalah Satu-satunya Agama yang Benar

Satu-satunya agama yang benar, diridhai dan diterima oleh Allah Azza wa Jalla adalah Islam. Adapun agama-agama lain, selain Islam, tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Agama selain Islam, yaitu Nasrani, Yahudi, Kong Hu Chu, Hindu, Budha, Sinto dan yang selainnya, tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla, karena agama-agama tersebut telah mengalami penyimpangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia. Setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke dalam agama Islam, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
[Ali ‘Imran: 19]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada dilangit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembalikan ?”
[Ali ‘Imran: 83]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.”
[Ali ‘Imran: 85]
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
َاْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى.
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.”
[HR. Ad-Daruquthni (III/ 181 no. 3564), tahqiq Syaikh ‘Adil Ahmad ‘Abdul Maujud dan Syaikh ‘Ali Mu’awwadh, Darul Ma’rifah, th. 1422 H) dan al-Baihaqy (VI/205) dari Shahabat ‘Aidh bin ‘Amr al-Muzany Radhiyallahu anhu. Lihat Irwaa-ul Ghalil (V/106 no. 1268) oleh Syaikh al-Albany rahimahullah]
Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam Al-Qur-an bahwa Yahudi dan Nasrani selalu berusaha untuk menyesatkan kaum Muslimin dan mengembalikan mereka kepada kekafiran, mengajak kaum Muslimin ke-pada agama Yahudi dan Nasrani. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Banyak di antara ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dari dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Al-Baqarah: 109]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, maka tidak akan ada bagimu Pelindung dan Penolong dari Allah.” [Al-Baqarah: 120]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنتُمْ شُهَدَاءُ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَوَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan?’ Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai ahli Kitab! Mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah, kamu menghendakinya (jalan Allah) bengkok, padahal kamu menyaksikan?’ Dan Allah tidak lengah terhadap yang kamu kerjakan. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikanmu menjadi orang kafir setelah beriman. Dan bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepadamu, dan Rasul-Nya (Mu-hammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.’” [Ali ‘Imran: 98-101]
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Islam satu-satunya agama yang benar, adapun selain Islam tidak benar dan tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, agama selain Islam, yaitu Nasrani, Yahudi, Kong Hu Cu, Hindu, Budha, Shinto dan yang lainnya, tidak akan diterima oleh Allah, karena agama-agama tersebut telah mengalami penyim-pangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia. Setelah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke dalam Islam, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian ayat-ayat di atas juga menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada Islam serta mereka tidak ridha sampai umat Islam mengikuti mereka. Mereka berusaha untuk menyesatkan umat Islam dan me-murtadkan umat Islam dengan berbagai cara. Saat ini gencar sekali dihembuskan propaganda penyatuan agama, yang menyatakan konsep satu Tuhan tiga agama. Hal ini tidak bisa diterima, baik secara nash (dalil Al-Qur-an dan As-Sunnah) maupun akal. Ini hanyalah angan-angan semu belaka. Kesesatan ini telah dibantah oleh Allah dalam Al-Qur-an:
وَقَالُوا لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَبَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.’ Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.’” [Al-Baqarah: 111-112]
Allah kemudian menjelaskan bahwa orang yang ikhlas dan ittiba’, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka akan mendapat balasan yang menggembirakan di akhirat. Sedangkan propaganda tersebut merupakan tipuan mereka (orang Yahudi dan Nasrani) agar kaum Muslimin keluar dari ke-Islamannya dan memeluk agama Yahudi atau Nasrani. Bahkan mereka memberikan iming-iming bahwa dengan mengikuti agama mereka, orang Islam akan mendapat petunjuk. Sedangkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim Alaihissallam yang lurus, agama tauhid yang terpelihara. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘(Tidak!) tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan dia tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allah.” [Al-Baqarah: 135]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” [Al-Baqarah: 42]
Dalam tafsir Ibnu Jarir berkenaan dengan ini: “Dan janganlah kalian campuradukkan yang haq dengan yang bathil,” beliau membawakan pernyataan Imam Mujahid rahimahullah yang mengatakan, “Janganlah kalian mencampuradukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam.”
Sementara dalam Tafsir Ibnu Katsir, Imam Qatadah rahimahullah berkata, “Janganlah kalian campuradukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam, karena sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah Azza wa Jalla hanyalah Islam. Sedangkan Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah bukan dari Allah Azza wa Jalla !”
Sungguh, tafsir ini merupakan khazanah fiqih yang sangat agung dalam memahami Al-Qur-an.
Untuk itulah kewajiban kita bersikap hati-hati terhadap propaganda-propaganda sesat, yang menyatakan bahwa, ‘Semua agama adalah baik’, ‘kebersamaan antar agama’, ‘satu tuhan tiga agama’, ‘persaudaraan antar agama’, ‘persatuan agama’, ‘perhimpunan agama samawi’, ‘persatuan agama Ibrahimiyyah’, ‘persatuan agama Ilahi’, ‘persatuan kaum beriman’, ‘pengikut millah’, ‘persatuan umat manusia’, ‘persatuan agama-agama tingkat nasional’, ‘persatuan agama-agama tingkat internasional’, ‘persaudaraan agama’, ‘satu surga banyak jalan’, ‘dialog antar umat beragama’. Muncul juga dengan nama ‘persaudaraan Islam Nasrani’ atau ‘Himpunan Islam Nasrani Anti Komunisme’ atau ‘Jaringan Islam Liberal (JIL)’.
Semua slogan dan propaganda tersebut bertujuan untuk menyesatkan umat Islam, dengan memberikan simpati atas agama Nasrani dan Yahudi, mendangkalkan pengetahuan umat Islam tentang Islam yang haq, untuk menghapus jihad, untuk menghilangkan ‘aqidah al-wala wal bara’ (cinta/loyal kepada kaum mukminin dan berlepas diri dari selainnya), dan mengembangkan pemikiran anti agama Islam. Dari semua sisi hal ini sangat merugikan Islam dan umatnya.
Semua propaganda sesat tersebut merusak ‘aqidah Islam. Sedangkan ‘aqidah merupakan hal yang paling pokok dan asas dalam agama Islam ini, karena agama yang mengajarkan prinsip ibadah yang benar kepada Allah Azza wa Jalla saja, hanyalah agama Islam.
Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya, tidak boleh ikut serta dalam seminar-seminar, perkumpulan, pertemuan, yayasan dan organisasi mereka. Tidak boleh pula menjadi anggota mereka. Bahkan ia wajib menjauhinya, mewaspadainya dan takut terhadap akibat buruknya. Ia harus menolaknya, memusuhinya dan menampakkan penolakannya secara terang-terangan serta mengusirnya dari negeri kaum Muslimin. Ia wajib mengikis pemikiran sesat itu dari benak kaum Muslimin, membasmi sampai ke akar-akarnya, menolaknya, mengucilkannya dan membendungnya. Pemerintah muslim wajib menegakkan sanksi murtad terhadap pengikut propaganda tersebut, setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak adanya penghalang. Hal itu dilakukan demi menjaga keutuhan agama dan sebagai peringatan terhadap orang-orang yang mempermainkan agama, dan dalam rangka mentaati Allah dan Rasul-Nya serta demi tegaknya syari’at Islam yang suci.
Hendaknya setiap muslim mengetahui hakikat propaganda ini. Ia tidak lain hanyalah benih-benih filsafat yang berkembang di alam politik yang akhir kesudahannya adalah kesesatan. Muncul dengan mengenakan baju baru untuk memangsa korban dari kalangan kaum Muslimin. Memangsa ‘aqidah mereka, tanah air mereka dan merenggut kekuasaan mereka. Target utama propaganda itu hanyalah Islam dan kaum muslimin dalam bentuk sebagai berikut:
1. Menimbulkan kebimbangan terhadap Islam, mengacaukan pemahaman kaum Muslimin serta menjerumuskan kaum Muslimin dengan cara menyebarluaskan syahwat dan syubhat.
2. Mendangkalkan cakupan agama Islam dan kandungannya.
3. Memunculkan kaidah-kaidah yang bertujuan menguliti dan mematikan ajaran Islam, melumpuhkan kaum Muslimin, mencabut dan memupus akar keimanan dari dalam hati mereka.
4. Mengurai dan memutuskan tali persaudaraan di antara kaum Muslimin di seluruh negeri Islam. Lalu menggantinya dengan persaudaraan baru yang terkutuk, yaitu persaudaraan Yahudi dan Nasrani.
5. Membungkam pena dan lisan kaum Muslimin dari pengkafiran Yahudi, Nasrani serta orang-orang yang telah dikafirkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
6. Menghapus hukum-hukum Islam yang diwajibkan atas kaum Muslimin terhadap Yahudi, Nasrani dan orang-orang kafir lainnya.
7. Menahan dan menghalangi kaum Muslimin dari puncak amal dalam Islam yaitu jihad fi sabilillah. Di antaranya adalah berjihad melawan ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Memerangi mereka karena Allah, serta memaksa mereka membayar jizyah (pajak) apabila menolak masuk Islam.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian dan mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Al-Kitab hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” [At-Taubah: 29]
8. Merobohkan kaidah dasar agama Islam, yaitu kaidah al-wala’ wal bara’ (loyal dan benci karena Allah Azza wa Jalla). Propaganda penyatuan agama ini berfungsi untuk mematahkan sikap berlepas diri kaum Muslimin terhadap orang-orang kafir.
9. Menghembuskan pemikiran dan sikap anti Islam yang bersembunyi di balik slogan persatuan agama-agama. Memisahkan umat Islam dari agama, menjauhkan syari’at yang tertuang dalam al-Qur-an dan as-Sunnah dari kehidupan mereka. Dengan hal itu, mereka lebih leluasa menggiring kaum Muslimin kepada pemikiran Jahiliyyah dan moral yang tercela.
10. Memadamkan inti ajaran Islam yaitu tauhid, keunggulannya, kejayaannya dan keistimewaannya.
11. Memperlancar progam-progam kristenisasi dengan merobohkan benteng ‘aqidah kaum Muslimin serta memadamkan api perlawanan kaum Muslimin terhadap mereka.
12. Melebarkan sayap kekuasaan orang-orang kafir, Yahudi, Nasrani dan orang-orang komunis di seluruh dunia, khususnya terhadap negara-negara Islam, lebih khusus lagi terhadap negara-negara Arab dan terutama sekali terhadap pusat dunia Islam dan ibu kotanya, yaitu Jazirah Arab.
Mereka juga berusaha untuk memurtadkan umat Islam di Indonesia dan ini sudah terbukti di beberapa daerah dan propinsi.
Itulah target dan tujuan utama propaganda keji tersebut! Dan sangat disayangkan dan merupakan musibah yang lebih besar lagi, adanya segelintir oknum dari kalangan kaum Muslimin dan orang yang mengaku muslim menyambut positif propaganda keji tersebut! Bahkan mendukung terselenggaranya seminar-seminar yang mereka adakan. Sehingga gaungnya lebih luas, berlomba-lomba menyambut seruan keji dan konspirasi jahat orang-orang kafir itu!
Propaganda ini, mulai dari asal usulnya, slogannya, pada hakikatnya merupakan musibah besar atas kaum Muslimin saat ini. Merupakan kekufuran yang sangat parah, mencampuradukkan Islam dengan kekufuran, haq dengan bathil, petunjuk dengan kesesatan, ma’ruf dengan mungkar, Sunnah dengan bid’ah serta ketaatan dengan maksiyat!
Propaganda kepada penyatuan agama Islam dengan agama lainnya yang telah menyimpang dan dihapus dengan syari’at Islam, merupakan kemurtadan yang nyata dan kekufuran yang jelas. Hal itu disebabkan karena propaganda itu secara terang-terangan telah mencabut sendi-sendi Agama Islam, baik pada aspek ‘aqidah, amaliyah, dan lainnya. Hukum ini merupakan kesepakatan yang tidak boleh diselisihi oleh kaum Muslimin. Propaganda ini merupakan kancah peperangan baru melawan kaum salibis dan melawan orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu Yahudi. Ini adalah perkara yang sangat serius, bukan main-main!
Mereka tidak henti-hentinya senantiasa berusaha siang dan malam memurtadkan umat Islam, sebagaimana Allah berfirman :
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
“…Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup…” [Al-Baqarah: 217]

Oleh: al-Ustadz Yazid bin Abdil Qadir Jawwas1

BACAAN DZIKIR PAGI DAN PETANG

  اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ       *A'uudzu billaahi minas...